BANDUNG - Pada 2 April 1971, di tanah Banten, lahir seorang bayi laki-laki bernama Kosasih. Ia tumbuh dalam didikan orang tua yang sederhana, Ust. H. Jufran Efendi dan Hj. Siti Khadijah, yang menanamkan nilai-nilai luhur dan harapan besar untuk masa depannya. Nama Kosasih, yang identik dengan tanah Sunda, terinspirasi dari sosok R.A. Kosasih, Panglima Kodam Siliwangi di masanya, seorang pemimpin yang disegani, merakyat, dan menjadi panutan.
Kehidupan masa kecil Kosasih di desa diwarnai petualangan khas anak-anak, namun di balik keceriaannya, tersimpan tekad kuat untuk membantu perekonomian keluarga. Sejak SMP, ia tak gentar berjualan es mambo dan mengisi waktu luangnya sebagai kuli toko bangunan. Pengalaman pahit menyaksikan seorang anggota TNI berlaku tidak terpuji di sebuah warung mie ayam menjadi titik balik yang mengukuhkan niatnya. Peristiwa itu membekas dalam hatinya, memupuk cita-cita untuk menjadi tentara yang mengayomi, melindungi, dan manunggal bersama rakyat.
Dengan tekad bulat, Kosasih mendaftar sebagai calon tentara secara diam-diam, bahkan menandatangani formulir pendaftaran sendiri karena khawatir tidak diizinkan orang tua. Perjuangan tak berhenti di situ, ia harus menempuh pendidikan militer yang ketat, dimulai dari AKMIL hingga berbagai kursus spesialisasi yang mengasah kemampuannya.
Perjalanan karier Mayor Jenderal TNI Kosasih, S.E., M.M., di TNI Angkatan Darat adalah bukti pengabdian panjang dan dedikasi tanpa henti. Beliau tidak hanya mengukir prestasi di medan tempur, tetapi juga menorehkan jejak kepemimpinan yang matang melalui berbagai jabatan strategis, mulai dari komandan resimen hingga peran penting di lingkungan Istana Kepresidenan.
Keberhasilan Kosasih tak lepas dari dukungan penuh sang istri, Asri Wiraningsih, dan kedua putrinya, Alfia Tasya Karisa dan Adelia Naila Karisa. Keluarga menjadi pilar kekuatan yang menopangnya dalam setiap tugas dan amanah.
Puncak pengabdiannya terukir saat beliau ditunjuk sebagai Panglima Kodam (Pangdam) III/Siliwangi ke-47, meneruskan estafet kepemimpinan dari leluhurnya, R.A. Kosasih. Jabatan ini menuntutnya untuk membina kesiapan satuan, mengamankan wilayah Jawa Barat dan Banten yang kompleks, serta memperkuat sinergi dengan seluruh elemen masyarakat.
Beliau dikenal sebagai sosok 'Jenderal Santri', perpaduan harmonis antara ketegasan militer dan kedalaman nilai keislaman. Latar belakang religiusnya yang kental dari tanah kelahirannya di Pandeglang, Banten, membentuk karakternya menjadi pribadi yang sederhana, berintegritas, dan senantiasa mengutamakan akhlak mulia dalam setiap tindakannya.
Di tengah dinamika masyarakat Tanah Siliwangi yang sarat dengan nilai budaya Sunda, Kosasih hadir sebagai jembatan antara kekuatan negara, nilai spiritual, dan kearifan lokal. Pendekatan humanis, dialogis, serta kedekatannya dengan ulama dan tokoh lintas agama menjadi ciri khas kepemimpinannya, mencerminkan semangat kemanunggalan TNI dengan rakyat.
Pengalaman penugasan dalam dan luar negeri yang luas, mulai dari Operasi TIMTIM hingga berbagai misi internasional di belahan dunia, telah memperkaya wawasan globalnya. Hal ini membekalinya untuk menghadapi tantangan keamanan yang semakin kompleks di era modern.
Mayor Jenderal TNI Kosasih, S.E., M.M., bukan sekadar memegang jabatan, melainkan mengimplementasikan motto hidupnya, “Jabatanku adalah Ibadahku”, dan berpegang teguh pada hadis Nabi Muhammad SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”. Perjalanan hidupnya adalah inspirasi nyata bahwa ketegasan dapat berpadu dengan kesantunan, profesionalisme militer dengan nilai keislaman, menciptakan sosok pemimpin yang kokoh, meneduhkan, dan berintegritas di hati masyarakat. (PERS)

Updates.