JAKARTA - Momen wisuda hari ini bukan sekadar seremoni, melainkan cerminan upaya mencetak generasi muda yang cerdas, kritis, dan berkarakter kebangsaan demi menyongsong Indonesia Emas 2045. Demikian ditekankan Gubernur Lemhannas RI, Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., saat menyampaikan orasi ilmiah pada Wisuda Sarjana dan Magister Angkatan XLIII Gelombang I Tahun Akademik 2025/2026 Universitas Garut pada Sabtu (14/2/2026).
“Wisudawan: Generasi Muda dan Tantangan Bangsa” menjadi tajuk orasi ilmiah yang mengingatkan pentingnya perguruan tinggi sebagai penggerak literasi geopolitik di era dinamis saat ini. Gubernur Lemhannas RI memaparkan bahwa pendidikan tak hanya soal kecerdasan intelektual, tetapi juga perluasan wawasan global bagi generasi muda, agar bonus demografi yang dimiliki Indonesia tidak berujung pada kehilangan identitas nasional.
“Memahami geopolitik dan menempatkan bangsa dalam posisi strategis merupakan wujud nyata nasionalisme baru di tengah ketidakpastian global seperti saat ini, ” ujar Gubernur Lemhannas RI.
Menurutnya, para wisudawan, sebagai representasi kaum muda, memegang peran krusial dalam memposisikan bangsa di kancah global. “Generasi adik-adik yang akan menentukan kemajuan bangsa, ” tegas Gubernur Lemhannas RI.
Sejarah mencatat, peran pemuda selalu menjadi motor penggerak bangsa. Mulai dari semangat Budi Oetomo, ikrar Sumpah Pemuda, peristiwa Rengasdengklok, hingga gelombang Reformasi 1998, kontribusi generasi muda tak pernah padam. “Semangat kepemudaan dimasa yang akan datang merupakan kewajiban para wisudawan Universitas Garut, ” pungkas Gubernur Lemhannas RI.
Saat ini, Indonesia tengah menghadapi beragam tantangan, terutama di sektor sumber daya manusia. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada tahun 2025 sebesar 0, 728, menempatkan negara ini di urutan ke-113 dari 193 negara. Bonus demografi bisa berbalik menjadi ancaman jika pengelolaan dan persiapan tidak matang. Data BPS November 2025 menunjukkan 7, 46 juta jiwa menganggur akibat keterbatasan lapangan kerja, kualitas SDM yang belum sesuai kebutuhan pasar, dan sistem pendidikan yang belum adaptif. Pengelolaan bonus demografi yang tepat diharapkan mampu membangun kemandirian bangsa dan ketahanan nasional yang kokoh. “Ketahanan Nasional yang rapuh tidak akan bisa mewujudkan tujuan nasional, ” kata Gubernur Lemhannas RI.
Untuk itu, para wisudawan Universitas Garut dituntut untuk menatap masa depan dengan karakter kuat, berintegritas tinggi, cinta tanah air, kesadaran geopolitik, dan wawasan kebangsaan yang luas. “Wisudawan sebagai kader pemimpin nasional harus berkarakter kebangsaan, visioner, serta transformatif dan adaptif untuk mewujudkan ketahanan nasional yang tangguh, ” ujar Gubernur Lemhannas RI.
Mengakhiri orasinya, Gubernur Lemhannas RI kembali menekankan bahwa wisudawan adalah agen perubahan. Mereka tidak hanya menjadi penonton dunia, tetapi garda terdepan penjaga ketahanan nasional dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Lemhannas RI juga menandatangani Nota Kesepahaman dengan Rektor Universitas Garut. Kerja sama ini mencakup bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat guna memperkuat wawasan kebangsaan dan ketahanan nasional, penyelenggaraan kegiatan ilmiah, serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia. Kolaborasi ini diharapkan mampu menghasilkan karya nyata bagi kemajuan kedua institusi dan bangsa. (PERS)

Updates.