JAKARTA - Dalam dunia yang terus berubah, kemampuan sebuah bangsa untuk bertahan dan berkembang menjadi kunci utama. Sekretaris Utama Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Sestama Lemhannas RI), Komjen Pol. Drs. R. Z. Panca Putra S., M.Si., menegaskan hal ini dengan gamblang. Menurutnya, tanpa fondasi ketahanan nasional yang kokoh, cita-cita luhur bangsa akan sulit terwujud. Pernyataan ini disampaikan saat memberikan materi pengenalan lembaga kepada peserta Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) 69 Lemhannas RI di Ruang NKRI pada Senin (12/01/2026).
Lemhannas RI, yang didirikan pada 20 Mei 1965 oleh Presiden Soekarno, memiliki peran sentral dalam menyatukan seluruh elemen bangsa. Kelahirannya didorong oleh kebutuhan mendesak akan integrasi dan sinergi antara sektor sipil dan militer, mengingat dinamika global yang menuntut kerja sama erat demi memperkuat ketahanan nasional.
“Ketahanan nasional adalah kondisi dinamis suatu bangsa yang meliputi segenap aspek kehidupan nasional yang terintegrasi berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional, dalam menghadapi dan mengatasi segala AGHT (ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan) baik yang datang dari luar maupun dari dalam, untuk menjamin identitas, integritas, kelangsungan hidup bangsa dan negara, serta perjuangan mencapai tujuan nasional, ” jelas Sestama Lemhannas RI. Pemahaman mendalam mengenai konsep inilah yang akan menjadi bekal utama bagi para peserta P4N 69 selama menempuh pendidikan di Lemhannas RI.
Metafora pohon kokoh digunakan untuk menggambarkan ketahanan nasional. Akar yang kuat, yakni empat konsensus dasar bangsa – Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika – menjadi penopang utama. Ketika akar ini kuat, ia akan menumbuhkan tunas-tunas baru yang esensial bagi bangsa: geopolitik, geostrategi, kewaspadaan nasional, dan sistem manajemen nasional.
|
Baca juga:
Indonesia Harusnya Jadi Poros Maritim Dunia
|
Geopolitik, yang dipengaruhi oleh geostrategi dan delapan gatra (demografi, geografi, sumber kekayaan alam, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan keamanan), menjadi elemen penting. Sestama Lemhannas RI menekankan bahwa Indonesia tidak dapat berdiri sendiri, melainkan selalu dipengaruhi oleh perkembangan global, kondisi domestik, serta aspek geostrategi yang melahirkan kewaspadaan nasional. Seluruh kepentingan bangsa kemudian disatukan melalui sistem manajemen nasional untuk merumuskan kebijakan yang tepat sasaran. Keempat elemen inilah yang akan dikupas tuntas oleh peserta P4N 69.
“Cara memahaminya adalah dengan wawasan kebangsaan, ” ujar Sestama Lemhannas RI, menegaskan pentingnya pemahaman holistik terhadap identitas dan jati diri bangsa.
Lebih lanjut, Sestama Lemhannas RI memaparkan tiga karakter esensial bagi seorang pemimpin nasional. Pertama, menjadi negarawan sejati yang menginternalisasi nilai-nilai kebangsaan dari empat konsensus dasar. Kedua, memiliki kemampuan berpikir strategis dan wawasan geopolitik yang mendalam, memahami dampaknya terhadap ketahanan nasional. Ketiga, mampu merumuskan program-program inovatif dan solutif demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Tugas Lemhannas RI sendiri mencakup penyelenggaraan pendidikan kader dan pemantapan pimpinan nasional, pengkajian strategis, pemantapan nilai-nilai kebangsaan, serta pengukuran indeks ketahanan nasional. Semua ini bertujuan untuk memperkuat pilar-pilar bangsa.
Menutup paparannya, Sestama Lemhannas RI berpesan dengan penuh harap kepada para calon pemimpin nasional. “Sebagai calon pimpinan nasional, Anda harus bisa menyiapkan generasi muda untuk menghadapi masa depan. Untuk mencapai hal tersebut, kerja sama dan kolaborasi antar sektoral diperlukan. Teamwork adalah kunci untuk mencapai kesuksesan, ” tuturnya, mengingatkan bahwa sinergi adalah kunci utama dalam membangun masa depan yang lebih baik. (PERS)

Ibrahim