Brian Yuliarto: Kolaborasi Nasional adalah Kunci Utama Kemandirian Teknologi Logam Tanah Jarang

    Brian Yuliarto: Kolaborasi Nasional adalah Kunci Utama Kemandirian Teknologi Logam Tanah Jarang
    Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto

    JAKARTA - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan bahwa kolaborasi skala nasional adalah kunci utama untuk memperkuat kemandirian teknologi di sektor logam tanah jarang. Langkah ini, menurutnya, merupakan fondasi vital menuju kemandirian teknologi bangsa yang sesungguhnya.

    Dalam keterangannya di Jakarta pada Senin (02/11/2025), Brian Yuliarto menekankan bahwa kekuatan ekonomi suatu negara tak hanya bergantung pada kekayaan alam, namun lebih pada kemampuan menguasai dan mengolah teknologi yang berakar pada riset.

    "Kita harus punya strategi, rare earth (logam tanah jarang) kuncinya adalah dari kemampuan kita menguasai teknologi, dan membangun industri, " ujarnya.

    Brian, yang juga menjabat sebagai ketua Badan Industri Mineral (BIM), menyoroti pentingnya belajar dari kesuksesan negara lain seperti Jepang, Korea, dan Tiongkok. Negara-negara tersebut berhasil melesat karena fokus pada riset dan teknologi pengolahan mineral strategis.

    "Penguasaan teknologi nasional menjadi satu-satunya cara agar Indonesia tidak kembali mengulang sejarah ketika sumber daya alam diekspor murah namun diimpor kembali dalam bentuk barang jadi bernilai tinggi, " tegas Brian.

    Senada dengan pandangan Mendiktisaintek, Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Tatacipta Dirgantara turut menggarisbawahi urgensi kolaborasi lintas disiplin dalam pengembangan riset logam tanah jarang dan mineral strategis nasional.

    Ia menekankan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus menjadi landasan utama dalam pengelolaan sumber daya alam Indonesia. "Melalui sinergi antar fakultas, pusat riset, dan dunia industri, ITB siap memperkuat kontribusi akademik dari hulu hingga hilir, " ucapnya.

    Indonesia diketahui memiliki potensi melimpah dalam bidang logam dan mineral, dengan 15 jalur metalogeni yang terhampar sepanjang 15.000 km, di mana baru separuhnya yang tereksplorasi. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung sebelumnya mengungkapkan potensi mineral kritis dan logam tanah jarang yang belum tergarap maksimal, padahal kebutuhan industri dalam negeri dan pengembangan teknologi hilirisasi sangat besar.

    Menyadari hal ini, Kementerian ESDM telah menjalin kerja sama dengan berbagai institusi pendidikan terkemuka, termasuk Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, dan Universitas Padjadjaran (Unpad) untuk memperdalam kegiatan eksplorasi di sektor mineral dan batubara (minerba). (PERS) 

    teknologi indonesia sumber daya mineral riset & inovasi kolaborasi industri kemandirian nasional pendidikan tinggi
    Updates.

    Updates.

    Artikel Sebelumnya

    Scott Ritter: AS Terancam Rudal Jelajah...

    Artikel Berikutnya

    Richard Mille: Sang Maestro Jam Tangan Mewah...

    Berita terkait

    Rekomendasi

    Pertemuan Menlu ASEAN di Cebu Bahas Keutuhan dan Kekuatan Bersama di Asia Tenggara
    Razia Blok Caraka Nihil Temuan, Rutan Surakarta Tegaskan Komitmen Keamanan
    Menlu Sugiono Tegaskan Indonesia Sumbang Dana sebagai Langkah Konkret Rehabilitasi Gaza
    Peduli Kesehatan Mental, Peserta Magang Laksanakan Penyuluhan Psikologi bagi Warga Binaan
    Antisipasi Kemacetan Akibat Mobil Mogok, Unit Lantas Polsek Jatisari Sigap Lakukan Pengaturan Lalu Lintas ‎

    Ikuti Kami