JAKARTA - Sebuah kenyataan pahit terungkap mengenai kondisi keuangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia. Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, membongkar bahwa kerugian finansial yang ditanggung BUMN setiap tahunnya bisa melonjak hingga Rp 20 triliun. Angka ini bukan sekadar perkiraan, melainkan data resmi yang tercatat dalam laporan keuangan perusahaan negara tersebut.
Namun, angka tersebut belum mencakup kerugian yang tak terlihat namun sangat nyata. Inefisiensi yang merajalela di lingkungan BUMN dan anak-anak perusahaannya diperkirakan merontokkan potensi kerugian tambahan sebesar Rp 30 triliun. Jika dijumlahkan, total kerugian potensial perusahaan-perusahaan pelat merah ini mencapai angka fantastis Rp 50 triliun setiap tahunnya.
"Total akumulasi loss daripada anak-anak perusahaan BUMN satu tahun itu adalah Rp 20 triliun. Itu akumulasi loss, akumulasi kerugian daripada perusahaan BUMN. Direct loss, yang tercantum di dalam rugi laba perusahaan, tetapi indirect loss-nya, karena layering transaction, karena umumnya yang loss itu adalah anak-anak perusahaan bukan induknya, dan menciptakan inefficiency, itu another Rp 30 triliun lagi, " ujar Dony Oskaria dalam sebuah forum diskusi Investor Daily Round Table di Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Menyikapi kondisi mengkhawatirkan ini, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berencana melakukan langkah drastis. BUMN akan dikonsolidasikan secara besar-besaran guna mendongkrak efisiensi. Jumlah BUMN yang saat ini membengkak melebihi 1.000 entitas, akan dipangkas drastis menjadi sekitar 300-an saja.
Proses konsolidasi ini akan dilakukan melalui berbagai skema, mulai dari merger antar perusahaan hingga penutupan entitas yang dinilai tidak lagi efisien. Meskipun demikian, Dony Oskaria memberikan jaminan bahwa langkah ini tidak akan serta-merta berujung pada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal.
"Total biaya tenaga kerjanya cuma Rp 2 triliun. Jadi, bagi saya lebih baik saya menyelesaikan proses menghilangkan total kerugian Rp 20 triliun ini dengan tetap meng-absorb tenaga kerja yang ada, yang cost-nya cuma Rp 2 triliun, " tegasnya.
Dony menambahkan, upaya konsolidasi BUMN ini memang membutuhkan energi besar karena harus dilakukan secara bertahap dan satu per satu. Sepanjang tahun lalu, timnya berhasil menyelesaikan 21 persoalan kompleks, termasuk penataan ulang industri gula, upaya penyehatan Waskita Karya, hingga restrukturisasi Krakatau Steel.
Langkah serupa juga telah diambil terhadap maskapai penerbangan pelat merah, Garuda Indonesia dan Citilink, sebagai bagian dari pembenahan menyeluruh. Saat ini, seluruh anak usaha Garuda dilaporkan telah menunjukkan ekuitas yang positif.
Citilink, yang sebelumnya mengalami kerugian signifikan, kini diproyeksikan akan berbalik arah. Dalam rencana bisnis yang telah disusun, maskapai ini ditargetkan membukukan kinerja positif sekitar US$ 6-9 juta pada tahun mendatang.
"Tadinya Citilink yang last year rugi signifikan, tahun ini di dalam forecasting-nya dan saya harapkan nanti mereka akan positif, next year itu kurang lebih US$ 6 juta sampai US$ 9 juta dalam forecasting, dalam business plan yang sudah kita buat, " tutupnya. (PERS)

Updates.