JAKARTA - Dalam sebuah keputusan mengejutkan yang mengguncang jagat pasar modal Indonesia, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman menyatakan pengunduran dirinya. Langkah ini diambil sebagai bentuk pertanggungjawaban pribadi atas anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi dua hari berturut-turut.
Iman Rachman, yang telah memimpin BEI sejak 29 Juni 2022, mengakui bahwa pasar kini mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Namun, guncangan hebat yang dialami IHSG, seiring dengan aksi jual besar-besaran, dipicu oleh pengumuman penyedia indeks global MSCI yang menangguhkan rebalancing untuk saham-saham Indonesia.
"Walaupun kondisi kita saat ini membaik bahwa saya sebagai Dirut BEI dan sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap apa yang terjadi dua hari kemarin, menyatakan mengundurkan diri dari Dirut BEI, " kata Iman di Jakarta, Jumat (30/1/2026). Ia berharap keputusannya ini akan membawa dampak positif dan menjadi yang terbaik bagi perkembangan pasar modal di masa mendatang. Selanjutnya, estafet kepemimpinan di BEI akan diisi oleh pelaksana tugas (plt).
Perjalanan karir Iman Rachman di pasar modal terbilang panjang dan gemilang. Ia pernah mengemban amanah sebagai manajer di Danareksa Sekuritas pada periode 1998-2003. Karirnya berlanjut di Mandiri Sekuritas, di mana ia menjabat sebagai Direktur Investment Banking dari tahun 2003 hingga 2016. Tak hanya di sektor swasta, Iman juga pernah berkontribusi di Badan Usaha Milik Negara (BUMN), termasuk sebagai Direktur Keuangan di PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) (2016-2018) dan PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) (2018-2019), serta Direktur Utama PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) (2019-2020). Sebelum kembali ke ranah pasar modal, posisi terakhirnya adalah Direktur Strategi, Portfolio, dan Pengembangan Usaha PT Pertamina (Persero) pada tahun 2020-2022.
Iman menegaskan bahwa keputusannya untuk mundur tetap diambil meskipun kondisi pasar sudah membaik. Ini merupakan sikap pribadi sekaligus institusional yang ia yakini sebagai jalan terbaik bagi keberlanjutan pasar modal Indonesia. Ia berharap langkah ini dapat memberikan sentimen positif dan memperkuat keyakinan para pelaku pasar ke depan, karena stabilitas dan kepercayaan adalah fondasi utama dalam menjaga kinerja pasar modal.
"Saya berharap ini yang terbaik bagi pasar modal. Semoga apa yang saya lakukan dapat membuat pasar modal menjadi lebih baik, " ujarnya penuh harap.
Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat bahwa pada Rabu (28/1/2026), IHSG ditutup terkoreksi 1, 06% ke level 8.232, 20. Sepanjang hari perdagangan, indeks sempat menyentuh titik terendah di 7.481, 99 hingga 8.296, 94. Sebanyak 227 saham menguat, 544 melemah, dan 187 lainnya stagnan. Kondisi yang lebih dramatis terjadi sesaat setelah pembukaan perdagangan, di mana IHSG sempat anjlok hingga 8%, memicu penghentian perdagangan sementara atau trading halt. Kejadian serupa juga dialami pada Selasa (27/1/2026), ketika IHSG mengalami trading halt dengan penurunan 8?n membukukan aksi jual investor asing senilai Rp6, 17 triliun.
Pelemahan tajam IHSG ini dipicu oleh sentimen panic selling setelah MSCI mengumumkan pembekuan sementara kenaikan bobot dan penambahan saham Indonesia dalam indeks global. MSCI juga memberikan sinyal peringatan kepada otoritas pasar modal Indonesia untuk segera melakukan pembenahan sistem pelaporan, khususnya terkait ketidakjelasan struktur kepemilikan dan potensi indikasi perdagangan semu. Apabila perbaikan transparansi tidak terealisasi hingga Mei 2026, Indonesia berpotensi menghadapi pemangkasan bobot dalam indeks MSCI Emerging Markets, yang dapat memicu arus keluar dana asing lebih lanjut, bahkan hingga penurunan klasifikasi dari emerging market menjadi frontier market.

Updates.