OPINI - Di sudut-sudut desa yang sunyi dan pinggiran kota yang berdebu, berdiri gubuk-gubuk reyot dengan atap rumbia yang bocor setiap kali hujan turun. Bagi keluarga duafa yang tinggal di dalamnya, program "Bedah Rumah" adalah mukjizat yang mereka nantikan bertahun-tahun. Mereka memimpikan dinding bata yang kokoh menggantikan anyaman bambu yang lapuk, serta lantai semen yang kering untuk menggantikan tanah yang becek. Namun, impian sederhana itu sering kali layu sebelum berkembang, tergerus oleh ketamakan para pemburu rente anggaran.
Praktik culas ini terlihat dari material yang datang ke lokasi pembangunan. Kayu-kayu penyangga yang dikirimkan sering kali berkualitas rendah, mudah patah, dan jauh dari spesifikasi yang dijanjikan. Semen yang datang hanya beberapa sak, tidak cukup untuk membangun fondasi yang kuat, sehingga bangunan baru itu tampak ringkih sejak hari pertama berdiri. Di atas kertas, laporan menunjukkan pembelian material kelas satu dengan harga pasar yang tinggi, namun di lapangan, yang tersisa hanyalah sisa-sisa bahan bangunan yang seolah hanya "didandani" agar tampak layak dari kejauhan.
Lebih menyakitkan lagi adalah saat melihat para penerima manfaat, kaum lansia atau buruh tani yang sudah renta, dipaksa menandatangani berkas penerimaan uang yang jumlahnya jauh lebih besar dari yang sebenarnya mereka terima. Dengan tangan gemetar dan wajah penuh ketakutan bercampur harap, mereka hanya bisa pasrah saat oknum petugas menyunat dana bantuan dengan dalih potongan administrasi, biaya transportasi, atau sekadar "uang rokok" bagi para pengawas.
Pemandangan ini adalah potret kemanusiaan yang tercabik. Mengorupsi dana bedah rumah bukan sekadar mencuri uang negara, melainkan merampas hak dasar manusia untuk berteduh dengan martabat. Para koruptor ini tidak hanya mengambil semen dan batu bata, tetapi mereka mencuri rasa aman dan harapan dari orang-orang yang paling tidak berdaya di negeri ini. Mereka membangun kemewahan pribadi di atas penderitaan orang-orang yang tidurnya tidak pernah tenang karena takut atap rumah mereka rubuh sewaktu-waktu.
Betapa keterlaluan ketika anggaran yang diniatkan untuk mengangkat derajat kaum papa justru menjadi ladang bancakan. Setiap rupiah yang dikorupsi dari dinding rumah duafa adalah bukti nyata bahwa bagi sebagian orang, rasa empati telah mati, digantikan oleh syahwat kekayaan yang tega memangsa nasib rakyat kecil hingga ke tulang-tulangnya.
JAKARTA, 02 Januari 2026
Dr. Ir. Hendri, ST., MT
Ketua Umum Jurnalis Nasional Indonesia

Updates.