BEIJING - Dua jenderal kawakan di lingkaran kekuasaan militer China, Jenderal Zhang Youxia dan Jenderal Liu Zhenli, harus rela melepaskan jabatannya di Komisi Militer Pusat (CMC) Partai Komunis China. Keputusan ini, yang diumumkan secara resmi oleh Kementerian Pertahanan China pada Sabtu, menyusul penyelidikan mendalam atas dugaan keterlibatan mereka dalam kasus korupsi.
Media resmi China, Rénmín Rìbào, pada Minggu (25/1/2026) turut mengulas langkah tegas ini, menggambarkan korupsi sebagai sebuah 'pengkhianatan terhadap negara dan partai'. Fenomena pencopotan pejabat tinggi militer yang diikuti pengakuan publik atas penyelidikan memang jarang terjadi di China, namun kali ini, Jenderal Zhang Youxia mencatatkan diri sebagai jenderal paling senior yang pernah tersandung kasus serupa. Sebelum dicopot, Zhang menjabat sebagai Wakil Ketua CMC, sebuah posisi yang sangat strategis dalam struktur pertahanan China.
Bersamaan dengan Zhang, Jenderal Liu Zhenli yang sebelumnya memimpin Departemen Kepala Staf Gabungan CMC, juga terseret dalam pusaran kasus ini. Pencopotan kedua jenderal ini secara efektif menyisakan hanya dua orang dalam komposisi CMC yang beranggotakan empat orang. Presiden China sekaligus Sekretaris Jenderal Partai Komunis China, Xi Jinping, memegang tampuk kekuasaan sebagai Ketua CMC, sementara anggota lainnya adalah Zhang Shengmin yang juga merangkap sebagai Sekretaris Komite Disiplin CMC.
Langkah pembersihan ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya, figur-figur penting seperti He Weidong, Li Shangfu, dan Miao Hua juga telah tersingkir dari CMC. Khususnya Li Shangfu, ia tidak hanya kehilangan kursinya di CMC tetapi juga jabatannya sebagai Menteri Pertahanan Nasional China. The Economist melaporkan bahwa Jenderal Zhang diduga terlibat dalam praktik korupsi saat menjabat di bagian pengadaan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) antara tahun 2012 hingga 2017. Sejak mengambil alih tampuk kekuasaan pada 2012, Xi Jinping telah menjadikan pemberantasan korupsi, baik di kalangan militer maupun di seluruh lini pemerintahan, sebagai prioritas utamanya.
Xi memandang korupsi sebagai hambatan serius bagi upaya modernisasi dan restrukturisasi PLA. Meskipun demikian, operasi pemberantasan korupsi berskala besar di kalangan perwira PLA baru benar-benar mengemuka pada tahun 2023. Lingkaran pertemanan Jenderal Zhang, yang dikenal sebagai anak dari para tokoh revolusioner China, kerap disorot. Dennis Wilder, seorang dosen di Georgetown University dan mantan analis CIA, berpendapat bahwa korupsi mungkin bukan satu-satunya alasan di balik pencopotan Zhang. Ia menilai Zhang sebagai salah satu jenderal terkuat di China, yang meskipun bersekutu dengan Xi, tidak pernah sepenuhnya berada di bawah kendalinya.
Hubungan antara ayah Zhang dan ayah Xi yang terjalin erat di masa perang saudara China, serta pengangkatan Zhang ke dalam Politbiro PKC pada tahun 2017 dan kemudian menjadi Wakil Ketua CMC, menunjukkan kedekatan strategis mereka. Namun, Rénmín Rìbào menegaskan bahwa jabatan tinggi tidak akan menjadi benteng bagi siapapun yang tersangkut kasus korupsi. Media partai itu menulis, "Penyelidikan dan penghukuman tegas terhadap Zhang Youxia dan Liu Zhenli merupakan pencapaian besar dalam perjuangan antikorupsi Partai dan militer, manifestasi penting dari tekad dan kekuatan Partai dan militer, serta sangat berarti untuk memenangi perang yang menentukan, berkepanjangan, dan menyeluruh melawan korupsi di militer."
Lebih lanjut, Rénmín Rìbào secara gamblang menyebut Zhang dan Liu sebagai pengkhianat yang telah mengkhianati kepercayaan partai dan CMC. Mereka dituding memicu korupsi dan membahayakan fondasi partai, menyebabkan kerusakan besar pada pembangunan politik, ekologi politik, dan efektivitas tempur militer. Media tersebut menekankan bahwa korupsi adalah 'racun ideologis' yang harus dimusnahkan. "Semakin PLA memerangi korupsi, semakin kuat, murni, dan efektif PLA dalam pertempuran, " demikian kutipan dari Rénmín Rìbào, menegaskan komitmen China dalam membersihkan aparatur negara dari segala bentuk penyimpangan. (PERS)

Updates.